Tuesday, February 23, 2021

,

Seorang laki – laki yang sudah memiliki pasangan sudah semestinya harus saling melengkapi dengan istri. Terlebih ketika sudah menjadi seorang ayah, seorang laki-laki perlu mempelajari beberapa skill atau keterampilan yang akan meringankan beban istri ketika di rumah. Mengapa keterampilan ini perlu dikuasai dan dilakukan oleh suami? Jawabnya agar suami dapat berbagi tugas dengan istri dan suami dapat melayani istri, utamanya pada saat-saat khusus seperti saat istri sedang sakit, sedang hamil, atau melahirkan. Berikut lima keterampilan yang harus dimiliki dan dikuasai oleh suami untuk meringankan beban istri di rumah:

ayah ugi parenting
Foto oleh Gabby K dari Pexels

1. Memasak

Memasak bukanlah perkara mudah, sehingga perlu dipelajari oleh suami. Ini akan sangat bermanfaat saat istri sedang melahirkan, atau suami ingin membuatkan menu makan malam khusus bagi pasangan atau keluarga. Apa yang bisa dilakukan laki-laki agar bisa menguasai keterampilan ini? Suami dapat belajar memasak dari istri. Kalau malu untuk bilang mau belajar memasak, temani istri saat memasak, lihat bagaimana prosesnya. Banyak membaca buku ataupun resep-resep yang ada di internet. Ketahui cara memasak yang benar, utamanya ketika memasak sayur yang keras dan lunak. Satu hal lagi yang wajib suami tahu yaitu mengenali aneka jenis bumbu dapur.     


ayah ugi parenting
Foto oleh Andrea Piacquadio dari Pexels

2. Membersihkan alat dapur

Kalau sudah bisa memasak maka harus ditunjang dengan keterampilan membersihkan alat dapur. Hal yang perlu diperhatikan para suami yaitu tidak langsung menyiram dengan air dan menggosok alat-alat dapur yang masih panas. Artinya alat yang baru dipakai memasak, didiamkan dulu hingga panasnya hilang baru dibersihkan dengan sabun cuci. Bagaimana prosesnya mencuci alat dapur? Pisahkan peralatan berlemak dan tidak, dan buang sisa makanan pada tempat sampah. Kemudian masukkan air hangat pada bak cucian dan tambahkan sabun cuci. Gosok semua peralatan dengan spons sampai bersih. Lanjutkan dengan membilasnya menggunakan air mengalir, tiriskan dan keringkan.


keterampilan ayah
Foto oleh Lisa Fotios dari Pexels

3.  Mencuci Pakaian

Mencuci pakaian bukanlah hal yang sulit bagi para suami. Apalagi bagi mereka yang semasa kuliah mencuci pakaian sendiri. Tapi, disini suami harus tahu bagaimana mencuci pakaian dengan benar. Diantara proses yang perlu dilakukan yaitu mengenali jenis bahan pakaian, memisahkan pakaian putih dan pakaian berwarna. Kalau sudah tambahkan detergen, kucek dengan lembut lalu rendam sesaat. Bagian yang tak kalah penting adalah saat sebelum mencuci yaitu menghilangkan najis yang ada di pakaian dan membersihkannya. Dalam mencuci pakaian bukan sekedar membersihkan busa yang menempel namun juga mensucikan pakaian yang dicuci. Caranya setelah di kucek, siram dengan air, peras, siram kembali, peras, dan siram kembali hingga merata dengan air mengalir. Tahap terakhir adalah menjemur pakaian.

  

keterampilan
Foto oleh RODNAE Productions dari Pexels

4. Membersihkan Rumah

Membersihkan rumah menjadi salah satu tugas yang memang harus dikerjakan bersama. Jangan hanya istri saja yang membersihkan. Suami juga perlu ikut andil dalam menciptakan rumah yang ersih, rapi dan sehat. Membersihkan rumah berarti membersihkan seluruh ruangan dari yang terdepan hingga yang paling belakang. Ruang depan, ruang tamu, ruang keluarga, kamar tidur, dapur dan kamar mandi serta perabotan yang ada di masing-masing ruangan. Apa yang dapat dilakukan saat membersihkan rumah? Para ayah dapat memulai dengan mengembalikan barang pada tempatnya, dan menata barang-barang tersebut. Menyapu dan mengepel lantai pada seluruh ruangan. Untuk memudahkan ayah, agar tidak berat melakukannya, bia dibuat jadwal misal, sebelum tidur mengembalikan semua barang pada tempatnya.


ayah ugi parenting
Foto oleh Gabby K dari Pexels

5. Merawat anak

Keterampilan ini juga menjadi keterampilan yang sangat penting dikuasai oleh para ayah. Ingat ayah tak sekedar memenuhi kebutuhan materi anak, namun juga memenuhi kebutuhan non materi pada anak. Dalam membantu merawat anak suami dapat menjalankan tugas seperti mengganti popok dan baju anak, menyuapi anak, memandikan, menggendong anak, dan mengajaknya bermain. Jika suami atau para ayah dapat memaksimalkan keterampilan ini, maka akan terbangun juga kedekatan emosional dengan anak. Bagi pasangan yang baru dikarunia buah hati, perlu diperhatikan adalah memberikan istri waktu istirahat saat malam hari, kecuali jika anak membutuhkan ASI.  


Bagaimana para suami, para ayah atau calon suami dan calon ayah, sudah siap dengan lima keterampilan yang harus dimiliki dan dikuasai?

Friday, February 19, 2021

,

Dalam mengasuh anak, orang tua memiliki tugas yang begitu berat dan untuk itu senantiasa dituntut agar bersabar. Hal penting yang perlu diperhatikan orang tua dalam pengasuhan adalah dalam hal komunikasi. Kaitannya dengan komunikasi ada hal yang perlu dilaksanakan orang tua yaitu pahami dan pahamkan bahasa anak. Orang tua harus bisa memposisikan diri menjadi sosok yang dapat memahami pesan yang ingin disampaikan anak


Tentu hal ini menjadi tantangan tersendiri bagi orang tua. Ia harus dapat menerjemahkan apa yang disampaikan anak kepadanya. Baik itu permintaan, pertanyaan, ataupun hal lainnya. Orang tua perlu menyikapinya dengan baik dan bijak, serta sabar. Pernahkah ayah dan bunda mengalami masa dimana anak menyampaikan sesuatu dengan bahasanya yang masih belum lengkap bahkan belum jelas pengucapannya?

parenting
Foto oleh William Fortunato dari Pexels


Menghadapi hal ini, orang tua tidak boleh diam begitu saja. Misal, masih ada orang tua yang acuh tak acuh dengan anak. Seakan paham atas apa yang anak sampaikan, tapi kenyataannya si anak tetap merengek atau mengucakan kata-kata yang sama kepada orang tuanya.


Misal, orang tua hanya menjawab "iya" kemudian melanjutkan ngobrol dengan temannya. Saat anak kembali mendatangi dan berucap hal yang sama, orang tua menjawab hal yang sama "iya" tanpa berusaha memahami apa sebenarnya yang ingin disampaikan si kecil. Hal seperti ini harus dirubah. Tidak boleh dibiarkan terus menerus begitu karena bisa berakibat tidak baik pada anak. Anak bisa berpandangan kalau orang tuanya tidak perhatian, tidak mau mengerti dengan seutuhnya.


Ayah dan bunda, ada hal yang perlu diperhatikan dalam berkomunikasi dengan anak, utamanya mereka yang masih belum bisa secara sempurna belum bisa mengungkapkan maksudnya dengan  menggunakan komunikasi verbal secara jelas dan lancar.


Untuk menyikapi hal ini, orang tua perlu melakukan dua hal yaitu pahami dan pahamkan bahasa anak. Untuk itu, perlu membiasakan diri memahami apa maksud yang ingin anak sampaikan. Ditambah lagi, parents juga harus berusaha untuk membangun kemampuan verbal dan kosakata anak dengan memahamkan anak pada yang dia maksud.


Jadi, pahami dan pahamkan bahasa anak. Jika orang tua sudah bisa menerjemahkan maksud bahasa anak, dan paham, bantulah anak untuk memahami dengan memahamkannya.

ayahugi parenting
Photo by Tatiana Syrikova from Pexels

Memang membutuhkan waktu dan kesabaran, tapi ini harus dilakukan. Sebagai orang tua, disini saya teringat dengan apa yang dilakukan anak saya yang ke dua, yang berusia dua tahun.


Suatu waktu dia mengeluarkan kata "O..apa". Dia memegang mainan, sambil menunjukkan dengan tangannya dia berjalan mendekat. Saya mencoba memahami pertanyaannya, menjawab dengan menyebutkan nama mainan yang dimaksud.


Esok dia kembali mengajukan pertanyaan yang sama dengan membawa benda lain. Saya pun memberikan jawaban dengan menyebut nama benda itu. Sembari berpikir, apa yang bisa saya lakukan untuknya. Tidak mungkin saya membiarkan dia bertanya dan saya menjawab sekedarnya tanpa ada umpan balik untuk memahamkan. Saya pun mengulangi pertanyaannya dengan pengucapan suara yang jelas. Ikut bertanya, dan menjawab sendiri pertanyaan dengan ikut memegang mainan yang ada di tangan si kecil.


Saat si kecil bertanya "O..apa?", saya pahamkan dia dengan pertanyaan, "Ini apa?". Terlihat dia semakin antusias bertanya banyak nama benda lainnya sambil tertawa bahagia saat mendapatkan jawaban dari setiap pertanyaan yang diajukan. Dia terlihat begitu girang. Lari meletakkan ke tempat mainan, meletakkan mainan yang sudah diketahui namanya dan mengambil mainan lain sambil kembali mengajukan pertanyaan.


Tak hanya sampai disini, meskipun dia belum bisa mengucapkan setiap kata dengan baik, benar dan jelas, ada hal yang harus saya bangun. Ketika dia bertanya "O...apa?", saya mencoba menjawabnya dengan menambahkan kosakata warnadi awal kata, seperti “Ini warna merah”, dia menyebut kembali warnanya, dan mengambil benda lain.


Saya pun mengembangkan apa yang dimaksud ananda. Di hari-hari berikutnya saya bangun kembali pemahamannya tentang pertanyaan dengan ucapan khasnya.


Saya ingin dia paham akan pertanyaannya. "O... apa?". Saya ingin dia memahami bahwa pertanyaannya bisa mendapatkan jawaban berbeda. Tentu harus diungkapkan dan dipahamkan jenis pertanyaannya. Mengapa pertanyaannya mendapatkan jawaban yang berbeda. Saya mulai menjawab pertanyaannya dengan menyebut nama benda dan warnanya.

Ananda : O...apa?

Ayah : Ini apa? Ini botol warnanya hijau.

Ananda : O...apa ana....

Ayah : Ini warna apa? Warnanya hijau.

Ananda : O...apa?

Ayah : Adik tanya bentuk atau warna?

Ananda : Bencuk.

Ayah   : Oh...ini bentuknya apa? Ini bentuknya boneka.


Inilah sekilas percakapan dengan putri kedua saya. Dia memang belum bisa mengucap dengan lancar, dan utuh, namun dengan direkamkan terus melalui percakapan, setidaknya satu hal dilakukan, yaitu memahamkan anak dan berusaha menerjemahkan maksud ananda.


Secara tak langsung, saat ananda semakin antusias, orang tua tak hanya memahamkan namun ada hal lain yang dibangun. Orang tua menambah kosa kata pada anak, orang tua menjalin kedekatan dengan anak, membangun ikatan emosional dengan anak. Jadi sebagai orang tua sudah saatnya harus menyediakan diri untuk menjadi orang tua yang dapat memahami dan dapat memahamkan bahasa anak.