Friday, February 19, 2021

Pahami dan Pahamkan Bahasa Anak

Dalam mengasuh anak, orang tua memiliki tugas yang begitu berat dan untuk itu senantiasa dituntut agar bersabar. Hal penting yang perlu diperhatikan orang tua dalam pengasuhan adalah dalam hal komunikasi. Kaitannya dengan komunikasi ada hal yang perlu dilaksanakan orang tua yaitu pahami dan pahamkan bahasa anak. Orang tua harus bisa memposisikan diri menjadi sosok yang dapat memahami pesan yang ingin disampaikan anak


Tentu hal ini menjadi tantangan tersendiri bagi orang tua. Ia harus dapat menerjemahkan apa yang disampaikan anak kepadanya. Baik itu permintaan, pertanyaan, ataupun hal lainnya. Orang tua perlu menyikapinya dengan baik dan bijak, serta sabar. Pernahkah ayah dan bunda mengalami masa dimana anak menyampaikan sesuatu dengan bahasanya yang masih belum lengkap bahkan belum jelas pengucapannya?

parenting
Foto oleh William Fortunato dari Pexels


Menghadapi hal ini, orang tua tidak boleh diam begitu saja. Misal, masih ada orang tua yang acuh tak acuh dengan anak. Seakan paham atas apa yang anak sampaikan, tapi kenyataannya si anak tetap merengek atau mengucakan kata-kata yang sama kepada orang tuanya.


Misal, orang tua hanya menjawab "iya" kemudian melanjutkan ngobrol dengan temannya. Saat anak kembali mendatangi dan berucap hal yang sama, orang tua menjawab hal yang sama "iya" tanpa berusaha memahami apa sebenarnya yang ingin disampaikan si kecil. Hal seperti ini harus dirubah. Tidak boleh dibiarkan terus menerus begitu karena bisa berakibat tidak baik pada anak. Anak bisa berpandangan kalau orang tuanya tidak perhatian, tidak mau mengerti dengan seutuhnya.


Ayah dan bunda, ada hal yang perlu diperhatikan dalam berkomunikasi dengan anak, utamanya mereka yang masih belum bisa secara sempurna belum bisa mengungkapkan maksudnya dengan  menggunakan komunikasi verbal secara jelas dan lancar.


Untuk menyikapi hal ini, orang tua perlu melakukan dua hal yaitu pahami dan pahamkan bahasa anak. Untuk itu, perlu membiasakan diri memahami apa maksud yang ingin anak sampaikan. Ditambah lagi, parents juga harus berusaha untuk membangun kemampuan verbal dan kosakata anak dengan memahamkan anak pada yang dia maksud.


Jadi, pahami dan pahamkan bahasa anak. Jika orang tua sudah bisa menerjemahkan maksud bahasa anak, dan paham, bantulah anak untuk memahami dengan memahamkannya.

ayahugi parenting
Photo by Tatiana Syrikova from Pexels

Memang membutuhkan waktu dan kesabaran, tapi ini harus dilakukan. Sebagai orang tua, disini saya teringat dengan apa yang dilakukan anak saya yang ke dua, yang berusia dua tahun.


Suatu waktu dia mengeluarkan kata "O..apa". Dia memegang mainan, sambil menunjukkan dengan tangannya dia berjalan mendekat. Saya mencoba memahami pertanyaannya, menjawab dengan menyebutkan nama mainan yang dimaksud.


Esok dia kembali mengajukan pertanyaan yang sama dengan membawa benda lain. Saya pun memberikan jawaban dengan menyebut nama benda itu. Sembari berpikir, apa yang bisa saya lakukan untuknya. Tidak mungkin saya membiarkan dia bertanya dan saya menjawab sekedarnya tanpa ada umpan balik untuk memahamkan. Saya pun mengulangi pertanyaannya dengan pengucapan suara yang jelas. Ikut bertanya, dan menjawab sendiri pertanyaan dengan ikut memegang mainan yang ada di tangan si kecil.


Saat si kecil bertanya "O..apa?", saya pahamkan dia dengan pertanyaan, "Ini apa?". Terlihat dia semakin antusias bertanya banyak nama benda lainnya sambil tertawa bahagia saat mendapatkan jawaban dari setiap pertanyaan yang diajukan. Dia terlihat begitu girang. Lari meletakkan ke tempat mainan, meletakkan mainan yang sudah diketahui namanya dan mengambil mainan lain sambil kembali mengajukan pertanyaan.


Tak hanya sampai disini, meskipun dia belum bisa mengucapkan setiap kata dengan baik, benar dan jelas, ada hal yang harus saya bangun. Ketika dia bertanya "O...apa?", saya mencoba menjawabnya dengan menambahkan kosakata warnadi awal kata, seperti “Ini warna merah”, dia menyebut kembali warnanya, dan mengambil benda lain.


Saya pun mengembangkan apa yang dimaksud ananda. Di hari-hari berikutnya saya bangun kembali pemahamannya tentang pertanyaan dengan ucapan khasnya.


Saya ingin dia paham akan pertanyaannya. "O... apa?". Saya ingin dia memahami bahwa pertanyaannya bisa mendapatkan jawaban berbeda. Tentu harus diungkapkan dan dipahamkan jenis pertanyaannya. Mengapa pertanyaannya mendapatkan jawaban yang berbeda. Saya mulai menjawab pertanyaannya dengan menyebut nama benda dan warnanya.

Ananda : O...apa?

Ayah : Ini apa? Ini botol warnanya hijau.

Ananda : O...apa ana....

Ayah : Ini warna apa? Warnanya hijau.

Ananda : O...apa?

Ayah : Adik tanya bentuk atau warna?

Ananda : Bencuk.

Ayah   : Oh...ini bentuknya apa? Ini bentuknya boneka.


Inilah sekilas percakapan dengan putri kedua saya. Dia memang belum bisa mengucap dengan lancar, dan utuh, namun dengan direkamkan terus melalui percakapan, setidaknya satu hal dilakukan, yaitu memahamkan anak dan berusaha menerjemahkan maksud ananda.


Secara tak langsung, saat ananda semakin antusias, orang tua tak hanya memahamkan namun ada hal lain yang dibangun. Orang tua menambah kosa kata pada anak, orang tua menjalin kedekatan dengan anak, membangun ikatan emosional dengan anak. Jadi sebagai orang tua sudah saatnya harus menyediakan diri untuk menjadi orang tua yang dapat memahami dan dapat memahamkan bahasa anak.

 

12 comments:

  1. Terkadang saat anak masih kecil, kita antusias menjawab. Namun saat sudah remaja, pertanyaan dari anak-anak cenderung dianggap 'kebodohan' padahal mereka juga masih memasuki usia ingin tahu.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul sekali, ini perlu menjafi perhatian khusus bagi orang tua. Setiap fase ada pendidikan berbeda dan orang tua tetap perlu mendampingi,memberikan oerhatian utamanya dalam hal pergaulan, dan menjadi sahabat bagi anak-anak. Krn masa remaja masa pencarian jati diri

      Delete
  2. Aq salfok sama foto2 yg Ayah Ugi pake. Menggambarkan ayah banget yaa.. tdk mudah emang menjawab pertanyaan anak apalagi di masa-masa dia lagi suka explore yaa..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya betul sekali. Seharusnya foto ayah ugi bersama si kecil yang lagi main. Apa boleh buat, kalau sudah bersama anak, HP diamankan dulu agar tidak mengganggu. Next perlu ada tim foto sepertinya.

      Pertanyaan anak kecil suka aneh ya mom. Jadi perlu betul-betul memahami

      Delete
  3. Sungguh. Kalau ngadepin anak-anak kunci utama itu kesabaran.
    Dari kesabaran, anak kelak meniru kita, yakni sabar.

    "Bencuk dari didikan orang tua adalah kesabaran"

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah...ayah sa'ad dapat kosakata baru nih. Boleh ayah di review kata "bencuk".

      Semoga kesabaran ini berbuah kebaikan, kesabatan dan ketaatan.

      Delete
  4. Dan memang, usia² emas anak akan terus membuat ortu berfikir dalam disetiap apa yg hendak disampaikan . Sgt berpengaruh ke ingatan anak soalnya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul sekali mom. Ini waktu dimana mereka mudah mengingat, memori akan merekaM terus. Bisa dibayangkan dikemudian hari bagaimana jadinya jika tidak dipahamkan.

      Delete
  5. Wah menarik ni ayah ugi. Ponakan Saya umurnya 3th juga cerewet banget. Setiap hal ditanyain. Kita sbg org dewasa harus sekreatif mungkin menjawabnya krn dr Satu pertanyaan ada pertanyaan lain, terus aja begitu😁. Kalau anak seusia SD atau SMP beda lagi cara penangannya ya. Bole kayanya di share cara penangannya (lg punya anak ABG ni ceritanya)

    ReplyDelete
  6. Anak memang harus selalu dimengerti ya ayah. Tigas ayah ternyata bukan sekedar cari nafkah buat makan ya.

    ReplyDelete
  7. noted banget ini, kadang seringnya org dewasa cuek, padahal anak merekam di alam bawah sadarnya ya

    ReplyDelete
  8. Memang menjawab celotehan anak itu tantangan banget ya kang... Apalagi haura yang bawel banget wuihhh udah kayak sidang skripsi, nanyanya runut...hehe...

    ReplyDelete