Friday, April 16, 2021

Merebut Momen Untuk Mendidik Anak

Buka Puasa
Photo by Naim Benjelloun from Pexels

Ramadan adalah bulan ke 9 dalam kalender hijriah. Di dalamnya penuh dengan kemuliaan dan peluang berbuat kebajikan.


Ramadan menjadi bulan khusus yang ditunggu-tunggu umat Islam. Di dalamnya memiliki banyak ibadah yang dapat digunakan untuk mendulang pahala. Di antara ibadah di bulan Ramadan yaitu ibadah puasa yang ditandai dengan makan sahur dan berbuka. Adapula sholat tarawih, dan beberapa dzikir khusus.


Ibadah-ibadah khusus yang hanya ada di bulan mulia ini sudah seharusnya dapat ditangkap sebagai sebuah momen yang begitu berharga bagi keluarga, utamanya orang tua. Mengapa demikian? Karena banyak pelajaran yang hanya dapat diajarkan pada waktu ramadhan saja.


Apakah di luar bulan Ramadan tidak bisa diajarkan? Tentu bisa, namun hanya sekedar pada informasi bukan pada tataran implementasi. Berbeda ketika para orang tua dapat mengenalkan, mengajari bahkan memahamkan anak-anak pada bulannya sambil melakukan bersama.


Apa yang bisa orang tua lakukan dengan ramadan untuk anak-anak? Orang tua dapat membangun kebiasaan anak berhubungan dengan hal-hal yang dilakukan pada bulan ramadan. Jadi tak sekedar berpuasa dengan makan sahur dan berbuka, orang tua bisa merebut momen-momen tertentu untuk menanamkan nilai-nilai pada anak.

 

parenting
Photo by Abdullah Ghatasheh from Pexels

Ini dia beberapa contoh aktivitas yang dapat digunakan untuk merebut moment dan menjadikannya bahan untuk mendidik anak bersama keluarga.

1.    Membangun kedekatan emosi dengan anak dari meja makan.

Meja makan bukan sekedar meja tempat berkumpul untuk menikmati menu hidangan bersama keluarga. Ada fungsi lain yaitu negosiasi meja makan. Ayah, bunda dapat menggunakan waktu ini untuk membangun kebersamaan, kedekatan, dan komunikasi dari hati-ke hati. Mengajarkan pada anak tentang adab saat berbuka, Contoh hal yang dapat ayah, bunda lakukan yaitu menawarkan anak tambah sayur atau lauk.


2.    Menggunakan setiap waktu untuk mengajarkan hal baru.

Di luar ramadan bisa jadi intensitas waktu untuk berkumpul tidak sebanyak bulan ramadan. Inilah yang perlu dimanfaatkan orang tua. Orang tua bisa mengajak anak belajar tentang buka puasa, dengan praktek langsung. Mulai dari membuka dengan doa, mengambil makanan secara bergantian, menjawab azan, mengambil makanan dari yang terdekat. DIlanjutkan kemudian dengan sholat berjamaah, membaca Al Qur'an dan berlanjut pada salat isya' sampai tarawih bersama.

 

3.    Membangun empati anak.

Empati, kepedulian anak tidak akan tumbuh begitu saja. Sama seperti hal lainnya, orang tua perlu mengajarkan dan memberikan contoh. Saat sedang keluar rumah biasakan membawa uang lebih, ketika bertemu orang, ajak anak untuk berbagi. Di awal bisa ayah atau bunda yang memberikan kepada orang yang berhak dibantu.

 


Hal seperti ini akan memancing anak untuk bertanya kenapa haru memberi kepada orang? Inilah momen yang harus ayah dan bunda rebut. Berikan penjelasan kepada anak. Berikan tawaran pada anak atau ajakan. Misal, “Kakak mau berbagi lagi?” atau “Besok kita cari orang lagi untuk berbagi.”

 


Ketika momen ini bisa direbut, ananda pasti akan setuju dengan tawaran dari ayah atau bunda. Dampaknya, bisa jadi anak akan bertanya, bagaimana agar bisa membantu sendiri? Orang tua bisa memberikan saran dengan menyisihkan sebagian uang jajan untuk diberikan kepada orang lain.


Masih banyak kegiatan-kegiatan ibadah ramadan yang dapat dikenalkan pada anak sekaligus menanamkan dalam diri mereka sedikit demi sedikit sesuai dengan kondisi dan kemampuan penerimaan anak.


Jika anak-anak masih dalam usia balita, tetap ajak mereka dalam kegiatan buka puasa, sahur, tarawih, dan tadarus.


Jika anak-anak sudah berada pada usia balig, jadikan momen ramadan sebagai momen untuk menguatkan hubungan dan membangun komunikasi dari hati ke hati. Membangun komunikasi dengan anak dapat dilakukan dengan interaksi melalui tadarus Al Qur'an, meminta anak laki untuk memimpin doa berbuka, mengajak anak perempuan untuk ikut membantu bunda menyiapkan menu buka dan sahur, dan banyak kegiatan lain yang dapat digunakan.


Tentu dalam mengenalkan kepada anak, orang tua harus memahami kondisi anak. Tidak memaksa namun tidak membiarkan. Biarkan mereka belajar secara tidak langsung dari setiap yang orang tua lakukan. Buatlah rekaman-rekaman kegiatan yang berkesan bagi mereka.


Jangan biarkan ramadan berlalu begitu saja, tanpa ada hal yang kita tanamkan pada anak. Hal ini karena ramadan hanya hadir satu tahun. Sudah seyogyanya orang tua merebut setiap momen yang terjadi atau dimiliki anak untuk mengenalkan dan menanamkan hal-hal positif pada anak. Jadikan setiap waktunya berkesan, sehingga menjadi ramadan yang tak pernah terlupakan. 


6 comments:

  1. Setuju, menumbuhkan empti anak perlu sengaja dilakukan orang tua. Bukan hanya terhadap orang di luar keluarga, juga terhadap saudara sendiri. Saya bingung, pernah melihat orang-orang yang murah hati banget sama orang2 lain di luar rumahnya tapi kepada saudara atau keluarga intinya kikir sekali.

    ReplyDelete
  2. Selamat menjalankan ibadah puasa bagi yang menjalankannya, semoga moment ini bisa menjadi sebuah kesempatan untuk saling mengeratkan hubungan antara orangtua kepada anaknya.

    ReplyDelete
  3. Setuju mas. Bulan Ramadhan bisa semakin mengajarkan anak tentang keimanan, kesabaran & kedisiplinan.

    ReplyDelete
  4. Setuju mas, ramadhan momen yang pas untuk membersamai anak setiap saat, pas beribadah, pas bermain hingga saat mengajak sahur bersama, pastinya anak akan selalu mengingat bahwa bulan ramadhan bulan yang penuh kesan :)

    ReplyDelete
  5. Bener banget nih mas, ramadan itu lebih banyak waktu dihabiskan sama keluarga misal saat berbuka dan sahur dan pas menunggu azan subuh. Seharusnya banyak komunikasi yang bisa di bangun oleh orang tua dan anak

    ReplyDelete
  6. berbuka puasa bersama keluarga sangatlah indah dan begitu bahagia

    ReplyDelete